Jan 12, 2010

Dua Muslimah, "Berjuang" Melalui Kartun

Siapa yang tidak akan menjerit, jika sejak lahir ia telah berada dalam kungkungan tangan penjajah. Dua orang suaminya yang ikut berjuang untuk kebebasan tanah air mereka, bahkan harus gugur akibat kekejaman tentara Zionis Israel.

Hidup adalah perjuangan dan tidak sepatutnya diam jika melihat penindasan berlangsung terus di depan mata. Semangat perjuangan harus tetap dikobarkan, walaupun dengan pena gambar. Setidaknya demikian bagi dua orang kartunis wanita Muslim di Palestina dan Pakistan.
Saya kira sangat sedikit orang Barat yang tahu tentang wanita Muslim yang menjadi artis kreatif secara umum. Kebanyakan dari mereka mengindentikkan wanita Muslim sebagai hasil daur ulang kepala-kepala berita di media Barat, yang melukiskan gambar suram wanita-wanita tertindas yang kebebasannya dibajak oleh kaum lelaki dan peran mereka dibatasi hanya untuk mengasuh anak dan memasak. Pandangan tersebut cocok bagi media Barat, karena gambaran semacam itu dihasilkan untuk menjustifikasi agresi dan campur tangan (Barat) ke sejumlah negara Muslim. Meskipun ada sebagian cerita yang benar, tapi tidak banyak yang mau bersusah payah mencari tahu seberapa benar cerita itu. Demikian tulis Iqbal Tamimi, seorang jurnalis wanita Palestina yang bermukim di Inggris.***

Omayya Joha adalah seorang kartunis ternama di Timur Tengah, ia orang Palestina dan wanita Arab pertama yang menjadi kartunis politik yang bekerja untuk sebuah surat kabar. Dan yang pertama kali mendirikan bisnis kartunnya sendiri, Joha Toon.
Joha lahir di Gaza pada 2 Februari 1972. Ia lulus dari jurusan matematika di Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 1995 dengan predikat tertinggi. Ia anggota Dewan Kesenian Naji Al-Ali. Al-Ali adalah kartunis Palestina yang telah menggambar 40.000 kartun politik dan menciptakan karakter Hanthala (Hanzala atau Handala), seorang bocah Palestina bertelanjang kaki yang posisinya selalu membelakangi dan tidak pernah kelihatan wajahnya, karena bocah itu senantiasa mengamati keadaan di sekelilingnya. Ali dibunuh pada tahun 1987 di London dan hingga kini kasus pembunuhannya belum terungkap.

Karya Joha bisa dibilang perpaduan antara politik dan jurnalisme yang merefleksikan kenyataan pahit dari perjuangan hidup para pengungsi dan rakyat Palestina. Sebuah realita yang sangat ia pahami.
"Saya di lahirkan di Gaza tahun 1972, tapi saya merupakan bagian dari keluarga pengungsi dari Al-Muharaka, salah satu desa Palestina yang diserang Israel saat penyerbuan tentara Zionis tahun 1948," katanya. "Keluarga kami tercerai-berai. Ayah saya sangat jauh, dan ibu terkubur segudang tanggung jawab. Saya merekam penderitaan hidup itu dengan pena, bahkan sejak sebelum saya bersekolah."

Joha sangat baik dalam menunjukkan kreativitasnya, sehingga ia berhasil memenangkan penghargaan jurnalistik Arab tahun 2001, sebuah arena sangat kompetitif yang didominasi kaum Adam.

Sentuhan berbeda

Kartunis wanita Muslim lainnya adalah Nigar Nazar, wanita Pakistan yang menciptakan karakter Gogi, yang dipakai guna mengekspresikan pandangannya dalam berbagai bidang, mulai dari chauvinisme pria hingga bom bunuh diri. Gogi dipilih Nazar sebagai tokoh utama kartunnya dengan menggambar seorang wanita Muslim modern yang mengenakan pakaian khas Pakistan bermotif polka dot, dengan bulu mata lentik dan potongan rambut pendek.

Hal itu agak berbeda dengan Joha yang memilih untuk menggambarkan banyak kepribadian orang di masyarakatnya, dan tidak memfokuskan diri pada karakter wanita untuk mengekspresikan pandangannya tentang penjajahan Israel yang telah menjadikan semua wanita, pria dan anak-anak dari berbagai kelompok usia menderita. Joha sendiri adalah korban dari agresi Israel yang menyerang Gaza. Suami pertamanya mati ditembak oleh Israel dan suami keduanya harus menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tidak mendapatkan pertolongan medis akibat blokade Israel.

Ada sentuhan kesedihan yang mendalam dan perasaan tertekan dalam setiap gambar yang dibuat Joha. Subyek kartunnya adalah para pengungsi, orang-orang Palestina yang tertindas, para tahanan, rasa putus asa dan kepedihan mendalam serta kritik terhadap masyarakat internasional atas sikap hipokrit mereka dalam masalah Palestina. Sebagaimana ia mengekspresikan kemarahannya terhadap sikap masyarakat Barat, ia juga mengekspresikan hal yang sama terhadap para pemimpin Arab yang membiarkan orang-orang Palestina terpuruk.

Di sisi lain, karya Nazar menunjukkan nafas humor wanita di dalam sebuah masyarakat yang didominasi kaum pria, di mana ia mencari kebebasan sosial. Negara Nazar tidak sedang dijajah, tapi Pakistan didominasi oleh para pria, buta huruf mewabah dalam masyarakat dan sepertinya radikalisasi sebagian pemuda sedang terjadi. Lewat karyanya, Nazar berupaya menaklukkan keangkuhan dalam masyarakat yang sepertinya menjadi musuh dalam selimut.

Nazar yang hidup di Islamabad, pernah mengajar di Colorado College selama beberapa waktu, sambil berharap ia bisa membantu orang-orang Amerika yang menurutnya memiliki persepsi dimensi tunggal terhadap masyarakat dan kebudayaan Islam. Sementara Joha yang lahir pada masa penjajahan, tidak bisa pergi ke luar negeri karena hidup di bawah kepungan Israel. Ia berharap bisa berbagi pengalaman di tingkat internasional, tapi meskipun ia seorang kartunis wanita terkenal di Timur Tengah, ia tidak dapat menghadiri banyak undangan.

Nazar, yang ayahnya bekerja sebagai diplomat di luar negeri ketika ia masih kanak-kanak, selama beberapa tahun tinggal di Amerika. Gogi, tokoh kartun buatannya, terbit pertama kali sebagai serial komik di harian The Sun pada tahun 1970 di Pakistan. Ketika itu ia berusia 22 tahun dan juga bekerja sebagai animator di Karachi Television. Kemudian ia menjadi pekerja lepas untuk The Herald yang terbit setiap bulan, sebelum akhirnya menerbitkan buku kartun Gogi pada tahun 1975.

Joha memulai karirnya sebagai seorang guru selama 3 tahun, lalu mengundurkan diri untuk lebih menekuni pekerjaan sebagai seorang kartunis. Ia bekerja untuk koran Al-Risalah sejak tahun 1997, untuk Al-Quds dari tahun 1999 hingga 2002, dan sejak Februari 2002 ia bekerja untuk Al-Hayat Al-Jadeeda di samping untuk koran Al-Raya di Qatar.

"Sejak sekolah menengah saya mulai membaca surat kabar, dan tentu saja kartun di halaman belakang Al-Quds, koran yang saya baca setiap hari," cerita Joha. "Saya melihat hasil gambar para artis, Naji Al-Ali dan Mahmoud Khail, dan sangat terkesan dengan karya mereka meskipun saya masih sangat muda."

Di dunia Arab, kartunis editorial dianggap sebagai jurnalis sekaligus pekerja seni. Ketika masih di Al-Quds, Joha adalah satu-satunya wanita di antara 12 kartunis yang bekerja untuk koran yang terbit di Tepi Barat dan Gaza tersebut.

Sindiran

Tokoh Gogi menyajikan humor yang lembut, tapi sebagian orang mungkin akan salah mengartikan selera humornya, terutama jika ia mengkritik kebudayaan di negerinya. Sebagai contoh, ketika ia menggambarkan bahwa cadar sebenarnya memiliki beberapa keuntungan, salah satunya sembunyi dari kejaran kreditur. Padahal ia ingin menyoroti masyarakat miskin di negaranya yang banyak terlilit hutang. Kartunnya mungkin bagi sebagian orang diterjemahkan sebagai pelecehan atas pakaian tradisional wanita Pakistan atau hijab di negara-negara Muslim.

Nazar juga pernah mengkritik masyarakatnya yang lebih menghargai kelahiran bayi laki-laki. "Ketika putranya lahir, sang ayah mematikan cerutu. Ketika putrinya lahir, sang ayah langsung mati," kritik Nazar lewat kartunnya.

"Itu adalah kartun pertama saya yang penuh makna," kata Nazar. Namun demikian katanya, para editor koran-koran Pakistan tidak selalu bisa menerima Gogi sebagai penyambung lidah wanita kota modern.

Berbeda dengan Nazar, kartun-kartun Joha menyampaikan pesan politik secara langsung. Nazar bilang, ia tidak membuat kartun politik sampai ia benar-benar sangat marah. Dan biasanya kartun yang demikian itu tidak diterbitkan. Jadi tidak jelas, apakah ia memilih karikatur sosial karena ia tidak cukup marah, atau takut karyanya tidak dimuat.

Tidak seperti Nazar, kehidupan Joha sangat menyedihkan. Ia menikah dua kali dan kedua suaminya meninggal dunia. Suami pertama, Rami Khader Saad, dibunuh oleh Israel di Gaza pada tahun 2003, karena ia seorang anggota Brigade Izzudin Al-Qassam. Suami keduanya, Wael Aqilan meninggal setelah gagal mendapatkan perawatan luka perutnya yang terkena ledakan, karena dilarang keluar dari Gaza oleh Israel. Aqilan wafat pada Mei 2009. Kehidupan pribadi dan bangsa Joha tergambar dalam karya-karyanya yang fokus menyampaikan pesan-pesan politik.

Sementara Nazar menyampaikan pesan-pesan sosial yang hampir mencakup semuanya, mulai dari pelecehan seksual hingga kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Dan karya-karyanya mulai bermunculan di sisi bus-bus kota Islamabad dan Lahore.

Alat perjuangan

Dengan tingginya tingkat buta huruf di Pakistan, Nazar melihat kartun sebagai cara yang baik untuk menyampaikan pesan-pesannya. Lewat Gogi ia menyampaikan pesan tentang AIDS, kawin paksa, kekerasan rumah tangga, korupsi pemerintah dan pertikaian antar sekte, serta pesan-pesan kesehatan dari UNICEF. Ia juga menulis dan menggambar buku cerita anak-anak tentang lingkungan hidup, seperti "Monster Sampah". Ia melukis mural di tembok-tembok rumah sakit dan di buku-buku komik guna menyampaikan pesan agar anak-anak terhindar dari perekrutan pelaku bom bunuh diri.

Joha menggunakan simbol kunci rumah sebagai tanda tangan, kunci itu muncul di banyak hasil karyanya sebagai pengingat atas harapannya dan banyak orang Palestina lain untuk kembali ke rumah mereka. Burung dara simbol perdamaian juga banyak muncul bersama dengan darah anak-anak dan ibu mereka. Sementara peta Palestina yang ia tampilkan, semakin tahun semakin menyusut akibat penjarahan tanah oleh Israel. Rantai juga menjadi simbol dalam kartunnya, karena hampir 11.000 orang Palestina dikurung dalam penjara-penjara Israel. Satu dari empat orang Palestina pernah ditahan paling tidak satu kali selama hidupnya.

"Sebuah kartun menceritakan satu peristiwa atau kejadian. Banyak orang yang menggambar, tapi caranya berbeda sama sekali," kata Joha.

"Seorang kartunis yang sukses adalah orang yang peka terhadap orang-orang dan realita di sekitarnya. Hasil karya mereka menjadi refleksi dari kehidupan. Ini adalah keindahan kartun, yang mana hal itu semacam sebuah kompetisi antar artis, siapa di antara mereka yang memiliki ide paling cemerlang dan bisa mewujudkannya, dan siapa yang bisa menarik perhatian masyarakat."

Kehidupan Joha tidak bisa lepas dari politik di Gaza dan Tepi Barat. Setidaknya satu kali kartun Joha memicu balasan kejam dari Israel. Setelah serangan Israel ke Gaza tahun 2004, Joha menggambarkan perdana menteri Israel ketika itu, Ariel Sharon, sedang membanggakan tentara Israel yang telah tewas dan putus kepalanya dalam keadaan berdiri di belakangnya.

Kartun itu dicetak di surat kabar Islam Al-Risalah, yang kantornya menjadi target sasaran Israel satu hari kemudian.

Meskipun kantor mereka rusak parah, koran itu mampu bertahan dan Joha tetap menjadi kartunis mereka. Ia terus menggambar sketsa-sketsa yang keras dan provokatif.

Awal Ramadhan tahun ini, Joha mengomentari ketegangan antara kelompok Hamas dan Fatah dengan menggambar seorang ibu Palestina yang berdiri di balkon dan berdoa agar anak-anaknya, orang-orang Palestina, bersama-sama bisa menikmati hidangan Ramadhan dalam satu meja lagi.

"Sayangnya kita sekarang hidup dalam waktu di mana orang-orang bercerai dan terpecah belah," kata Joha.

"Itu adalah waktu yang tepat bagi seorang kartunis untuk menjadi seorang komentator sekaligus pengamat dan mempergunakan pengaruh yang dimilikinya."

Kedua wanita itu, Joha dan Nazar, ingin menyampaikan pesan tentang keadaan masyakarat mereka lewat kartun, yang dalam banyak kasus berbicara lebih lantang dari sebuah buku sejarah. Patut diperhitungkan keikutsertaan mereka dalam persaingan untuk menjadi pemenang di sebuah bidang pekerjaan yang didominasi kaum Adam. Keduanya telah melakukan kerja yang bagus sebagai duta dari para wanita di negaranya masing-masing guna mengekspresikan solidaritas mereka terhadap perempuan yang menjadi korban politik dalam berbagai tingkatan.

Sekarang ini Joha telah kembali menikah dan hidup bahagia, namun situasi di Gaza terus memburuk. Bagi Joha, pertentangan antara Hamas dan Fatah yang berkepanjangan berarti ia tidak akan kekurangan bahan.

"Perpecahan Palestina tidak diharapkan oleh setiap keluarga Palestina, dan dengan kehendak Allah, kami akan bisa mengatasi perpecahan itu," katanya. "Harapan saya adalah bisa meninggalkan hasil cetakan gambar kartun di dunia Arab."

Post By : Feryhady

0 comments:

Post a Comment

Update Myworld

Plengkung

Plengkung
Plengkung

Chat Via Yahoo

Agro Wisata

Agro Wisata
Kopi

Jaranan

Jaranan
Tari Jaranan

Ngikut Yuuuk

Tukeran Link


feryhady.blogspot

Pengunjung

free counters

Geo Counter