Jan 12, 2010

Pelajar Jerman Berjuang Untuk Sholat

Sebagian Muslim ada menyepelekan kewajiban shalat, meskipun berada dalam kondisi sangat memungkinkan untuk shalat. Mereka menundanya atau bahkan tidak melaksanakan kewajiban itu.


Namun, tidak demikian halnya dengan pemuda Jerman satu ini. Baginya shalat di mana pun harus tetap dilaksanakan. Pemuda itu namanya Yunus M., berusia 16 tahun. Ia mengajukan tuntutan hukum terhadap sekolahnya, karena ingin diperbolehkan shalat di sekolah.

Tuntutan hukum seperti itu pertama kalinya terjadi di Jerman. Mengacu kepada kebebasan beragama, pengadilan adminstrasi di Berlin akhirnya menetapkan keputusan banding ketiga pada Selasa (29/9) bahwa shalat yang dilakukannya tidak mengganggu operasional sekolah.

Pengadilan mengatakan, hak dasar kebebasan beragama tidak hanya mengacu pada kebebasan internal sebuah kepercayaan, tapi juga kebebasan eksternal untuk melakukannya, termasuk di dalamnya adalah berdoa -- dalam hal ini shalat. Hal itu (kebebasan beragama) tidak terlaksana jika murid yang taat itu hanya diperbolehkan shalat di luar sekolah.

Jurubicara pengadilan, Stephen Groscurth mengatakan bahwa dengan kasus itu, “Siswa-siswa Muslim lainnya bisa merujuk pada kasus itu." Ini berarti, pengadilan akan menangani tuntutan semacam itu kasus per kasus, demikian jelasnya.

Sekolah dengan demikian berkewajiban memperbolehkan Yunus untuk shalat dalam ruangan terpisah, di luar jam pelajaran selama 10 menit.

Direktur sekolah, Brigitte Burchardt, mengatakan bahwa dirinya kecewa atas keputusan itu. Menurutnya, keputusan itu mendahulukan lainnya dan operasional sekolah tidak bisa berjalan semestinya.

“Ada delapan lagi murid yang mengajukan perlakuan serupa. Saya tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya,” demikian katanya.

"Saya harus memperhatikan hak 650 murid," kata Burchardt. Sekitar 90 persen berlatar belakang imigran. Semua agama besar belajar di sekolah menengah Diesterweg di Berlin-Wedding itu.

Namun hakim yang memutuskan perkara, Uwe Wegener, berpendapat, ia tidak melihat adanya bahaya yang parah jika ada banyak siswa yang menuntut ruang untuk shalat.

Wegener juga mengatakan, ia tidak menemukan dalam kasus ini bahwa shalat yang dilakukan Yunus bisa menyebabkan atau memperparah konflik di kalangan siswa dari berbagai agama dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

Senat Pendidikan di Berlin mengatakan ketakutannya bahwa keputusan itu akan memaksa sekolah-sekolah umum untuk melepaskan netralitasnya dan bisa jadi "pengkotakan berdasarkan agama" akan terbentuk.

"Meskipun demikian, tentu saja pihak sekolah akan tetap melaksanakan keputusan pengadilan," kata pihak Senat.

Ketua dari dewan yang mewakili pemerintah kota dan wali murid, Andre Schindler, mengatakan, organisasinya khawatir keputusan hakim itu akan mengurangi keinginan siswa Muslim berbaur dengan yang lain. Dewan itu mengusulkan Senat Pendidikan Berlin untuk mengajukan banding.

Tapi pihak senat mengatakan, pihaknya akan banding setelah mengkaji keputusan yang ditulis hakim tersebut.

Pendapat pakar

Wegener mengatakan, Yunus telah berhasil memberikan bukti yang bisa diterima, yaitu kewajiban agama bagi dirinya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Ia tidak melihat kemungkinan untuk tidak melakukan shalat selama berada di sekolah. “Hal itu tidak mungkin dilakukannya,” kata Wegener.

Pengadilan mendasari keputusannya pada pendapat pakar Islam.

Pakar Islam dan profesor hukum dari Universitas Nuremburg-Erlangen, Mathias Rohe, memberikan kesaksian sebagai seorang pakar dalam persidangan.

Rohe mengatakan kepada pengadilan bahwa apa yang diminta Yunus merupakan bagian dari ajaran Islam, yang berarti merupakan bagian dari kebebasan beragama.

Rohe mengatakan, itu bukanlah kasus dari seorang ektremis yang ingin melaksanakan sesuatu "dengan cara apapun."

Kasus ini pertama kali merebak di tahun 2007 ketika kepala sekolah, yang sangat memegang teguh tradisi sekular, melarang Yunus dan kawan-kawannya untuk shalat.

Tidak terima dengan larangan itu, pemuda yang beribukan wanita Turki dan ayah seorang Jerman --yang kemudian memeluk Islam-- itu akhirnya mengajukan tuntutan ke pengadilan. Dan ia menang.

Pada keputusan pengadilan sebelumnya Maret 2008, pengadilan memerintahkan kepada pihak sekolah agar memperbolehkan remaja itu shalat satu kali selama jam istirahat sekolah. Sejak itu, sekolah mengizinkannya untuk shalat di sebuah ruangan khusus yang disediakan, selama 10 menit dalam sehari.

Sebelumnya, Yunus melakukan shalat di lorong sekolah dengan beralaskan jaket, sementara siswa-siswa lain yang berlalu-lalang menyaksikan apa yang dilakukannya.

Islam dan Eropa

Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389), yang memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu.

Lima tahun setelah runtuhnya Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, Abdurrahman I yang bergelar Al-Dakhil berhasil mendirikan Kekhalifahan Umayyah baru di daratan Eropa.

Pada masa kepemimpinan Abdurrahman III, di pusat pemerintahan berdiri Universitas Cordoba. Menurut Sejarawan Said Al-Andalusi, sang Khalifah juga mendirikan perpustakaan megah dengan koleksi buku yang sangat melimpah. Ia menempatkan para sarjana kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya dalam posisi yang tinggi serta terhormat.

Saat itu, kota Cordoba dikenal sebagai salah satu pusat ilmu kedokteran dan filsafat berpengaruh di dunia, setelah Baghdad. Dukungan para penguasa itu telah mendorong ilmu pengetahuan serta teknologi berkembang begitu pesat di Kekhalifahan Umayyah Spanyol.

Banyak pakar sejarah dan sosiologi menilai, Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

Dalam beberapa survei terbaru, di sebagian besar negara-negara Eropa, agama Islam kini telah menjadi agama terbesar kedua dan keberadaanya telah “diakui” pemerintah. Salah satu negara Eropa yang memiliki penduduk Muslim besar adalah Jerman, dengan jumlah berkisar 3.7 juta jiwa.

Fenemona yang cukup menarik ketika umat Islam mendapat perlakuan diskriminatif akibat kasus WTC 11 September, justru bahwa tingkat konversi orang-orang Jerman terhadap Islam cukup tinggi.

Majalah ternama Jerman Der Spiegel pernah menyebutkan bahwa bulan Juli 2004 dan Juni 2005 saja terdapat sekitar 4000 orang di Jerman masuk Islam. Kebanyakan para muallaf berasal dari kalangan terpelajar.

Komunitas Muslim jumlahnya mencapai 5% dari total populasi Jerman. Populasi Protestan mencapai 33% dan Katolik 33% dari keseluruhan jumlahnya penganut Kristen yang berjumlah sekitar 55 juta orang. Kaum Muslim di Jerman kebanyakan dianut oleh keturunan imigran dari Turki.

Menurut laporan majalah Focus, sejak 2004 jumlah masjid di Jerman terus bertambah. Hingga kini tercatat ada 159 masjid. Itu belum termasuk 184 masjid yang tengah dibangun dan 2.600 ruangan yang disewa untuk kepentingan ibadah umat Islam. Fenomena Yunus, mungkin hanya kasus awal bagaimana geliat warga Eropa menemukan Islam.

Post By : Feryhady

KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Dec 13, 2009

Nonton YOUTUBE putus2??????menjengkelkan

SPEEDBIT VIDEO ACCELERATOR

Seringkali kita terutama kawan2 yang suka nonton video di youtube merasa terganggu bahkan terkadang menjengkelkan. Mengapa???? ini seringkali disebabkan tayangan video di youtube seringkali patah patah,sehingga sangat tidak mengenakkan. Bahkan keadaan ini terkadang tambah diperparah dengan loading yang lama, tentu ini menambah kadar kejengkelan kita, dan ini sering kali saya alami sendiri. Seringkali saya mencari solusi ini dengan menambah berbagai software, namun masih saja kurang bermanfaat. Namun setelah saya browser ke blog  Kang rohman ada tambahan ilmu yang bisa saya peroleh untuk mengatasi kendala ini. dan apakah itu ?kawan kawan tinggal klik aja disini. 
Kawan2 bisa langsung mencobanya dan bisa melihat sendiri bagaimana software tersebut sangat membantu kelancaran video di youtube.
Semoga ini bisa membantu kawan2 sehingga tidak lagi merasa jengkel dan bosan menonton tayangan video di youtube. 
Kawan2 juga bisa langsung Download disini softwarenya

Selamat mencoba

uploade: Feryhady




KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Nov 26, 2009

Politik Dan Pendidikan Islam


Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir.
Tahun 60-an ada perbincangan yang menarik antara Prof Deliar Noer dengan Kiai Zarkasyi. ”Cuma ada pesan saya... kan pak Natsir tidak boleh berpolitik,” kata Kiai Zarkasyi kepada Deliar Noer. ”Sekurang-kurangnya walau tak resmi, namun langkahnya dalam berpolitik terlambat. Saya ada pesan,” lanjutnya, dan minta agar disampaikannya ke Pak Natsir. ”Saya ingat Ki Hajar Dewantoro,” kata Kiai Zarkasyi. ”Setelah ia kembali dari Belanda dan tidak boleh bergerak aktif dalam bidang politik, ia membatasi dirinya bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa, dan ia berhasil dengan usahanya ini. Saya berpikir apakah setidaknya Pak Natsir tidak berbuat hal yang seperti ini,” kata Kiai Zarkasyi. ”Ia seorang pemimpin: bisa di bidang politik dan sosial. Tetapi asalnya juga dari bidang pendidikan.”


Dan, Kiai Zarkasyi menyebut-nyebut kegiatan Natsir di zaman Belanda dengan sekolah-sekolah Pendis-nya (Pendidikan Islam) di Bandung, terdiri dari TK, HIS, MULO dan HIK. Menurut Kiai Zarkasyi, Pendis ini sedikit banyak berhasil. ”Kalau tidak Jepang masuk,” tambahnya,”tentu sekolahan tersebut akan berkembang.”


”Dan kini dalam bidang politik, Pak Natsir mendapat hambatan,” sambung pendiri Gontor ini. ”Alihkan perhatian penuh ke bidang yang agaknya lebih perlu dikelola,” katanya tegas. ”Dan saya harap,” sambungnya, ”Saudara menyampaikan ini kepada beliau.”


Ia menambahkan bahwa orang seperti Pak Natsir, dana pun akan tiba. Dan dengan pendidikan, usahanya akan lebih nyata, kebebasan juga akan lebih terpelihara... Begitu saya kembali dari Gontor, permulaan tahun 1970-an itu, pesan Kiai Zarkasyi sempat saya sampaikan kepada Pak Natsir. (Prof. Dr. Deliar Noer dalam KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, Gontor Press, 1996, 643-644).


Politik


Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir. Dalam pemilihan ketua partai (kecuali sebagian kecil), bupati, gubernur, bahkan presiden, uang menjadi faktor utama penentu keberhasilan. Bukan ilmu, kapabilitas calon, dan adab atau akhlak yang baik yang dimiliki sang calon.
Padahal ilmu dan adab pemimpin politik itu menjadi syarat utama dalam memimpin masyarakat. Ulama Melayu terkemuka, Syekh Ahmad al Fathani mencirikan sifat-sifat yang mesti dimiliki pemimpin politik. Di antaranya: sempurna anggota (indera), baik budi pekerti, baik kefahaman, cerdik/bijaksana, faham terhadap sekalian ilmu, terutama ilmu berhitung dan ilmu tarikh, benar dalam perkataan dan menjauhkan kebohongan, elok perlakuan muamalat, berkelakuan yang lembut, dalam perjumpaan selalu memberikan kelapangan, tidak tamak pada makanan, minuman dan perkawinan, menjauhi bermain-main dalam segala urusan, mempunyai ketinggian himmah (cita-cita), bersungguh-sungguh pada membangun kerajaan, mencintai keadilan, benci kezaliman, mempunyai hati yang tabah dan berani, dan mengetahui sekalian muslihat.”


Pentingnya ilmu politik ini, dikemukakannya pada kitab Hadiqatul Azhar: ”Muhimmah, pada bicara ilmu siasat (politik). Yaitu ilmu memperbaiki rakyat dengan menunjukkan mereka itu kepada jalan yang melepaskan mereka itu daripada tiap-tiap kekeruhan pada dunia dan akherat... maka hukumnya ilmu itu wajib kifayah.” (Wan Mohd Saghir: 1992, 103).


Masalahnya, dalam ilmu politik sekuler saat ini, masalah akhirat tidak dimasukkan sebagai urusan negara. Akhirat tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan politik dan inilah awal malapetaka politik di Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya. Sehingga suap, ingkar janji, kebohongan, hasad, tamak, dan riya’ menjadi tontotan politik sehari-hari.


Padahal dahulu bila para ulama memberikan nasehat kepada raja atau sultan, selalu diawali dengan nasehat agar para pemimpin itu mula-mula bertakwa kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya, dan seterusnya. Dulu, dalam sejarah Islam, Jendral Abdullah bin Husain, ketika menasihati anaknya, maka dia menulis agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin, dan sebagainya. Apakah ada jenderal sekarang ini yang menasihati anaknya demikian? Juga ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib menasihati kepada gubernurnya. Ia menasihatkan tentang pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, perhatian kepada orang miskin, jangan terpengaruh godaan dunia, dan lain-lain. Apakah ada sekarang ulama atau pejabat yang menasihatkan seperti itu?


Politik dan Pendidikan Islam


Dalam era kehidupan politik yang sekuler saat ini, juga ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang. Pemimpin-pemimpin ini hanya mampu mengulang-ulangi praktek pendidikan yang yang datang atau dipengaruhi sepenuhnya oleh Barat. Intelektual terkemuka Melayu, Syed Muhammad Naquib al Attas mengemukakan dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin: ”Saluran yang melancarkan penyelundupan faham-faham asasi yang asing itu adalah sistem pembelajaran dan pendidikan yang dikuatkuasakan oleh kuasa-kuasa politik serta gejala-gejala pentadbirannya, dan seterusnya, dibantu oleh golongan para guru dan pensharah dan golongan penulis yang menyamarkan faham-faham itu sebagai hasil sastera. Dan betapakah lagi kacaunya andaikata orang-orang yang mewakili kuasa-kuasa tersebut, dan guru dan pensharah dan penulis itu tiada pula memahami serta mengenali dan mengetahui benar-benar sifat serta hakikat kandungan faham-faham yang dikuatkuasakan dan dianjurkannya itu!


Kaum Muslimin harus insaf bahwa sebahagian besar mereka yang memainkan peranan dalam menyebarkan kekeliruan dan kepalsuan ini –baik pun secara disadari maupun tiada disadari—merupakan orang-orang yang bukan saja tiada memahami serta mengenali dan mengetahui benar ilmu kebudayaan Barat, bahkan jua yang tiada mempunyai ilmu keislaman, dan yang pengetahuan serta amalan Islamnya sangat-sangatlah menyedihkan sebab sekadar yang bertaraf kebudak-budakan belaka. Padahal golongan-golongan ini dibiarkan –malah diberi amanah—oleh kaum Muslimin untuk memimpinnya dalam pelbagai lapangan kehidupan!”


Lebih lanjut Prof al Attas menasehatkan: ”Janganlah hendaknya kau fikir –wahai saudaraku Muslimin—bahwa sekarang ini kononnya dengan tersingkirnya ciri-ciri zahiriah kolonialisme kebudayaan Barat, pemimpin-pemimpin kita yang Islam yang telah kita amanahkan untuk menjalankan tugas membimbing masyarakat kita itu, memang benar-benar menunaikan tugas mereka dengan secara yang tiada berlawanan dengan Islam. Kau harus insaf bahwa kebanyakan mereka itu mewarisi ilmu serta cara berfikir kolonial yang jahil terhadap Islam. Mereka belum lagi berhasil menunaikan syarat-syarat serta pencapaian ilmu yang fardhu ain di sisi Islam, dan boleh dikatakan langsung sunyi daripada ilmu pengetahuan Islam yang harus dianggap sebagai fardhu kifayah yang terutama bagi mereka, maka betapakah dapat mereka itu menghindarkan diri dan masyarakatnya terpesong (terperosok) ke jalan yang sesat!”


Dalam bidang ilmu pengetahuan yang merujuk kepada pendidikan dan pelajaran, kata al Attas, pemimpin-pemimpin kita yang bertanggungjawab mengenainya tiada sadar bahwa banyak yang diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajian tinggi itu bukanlah ilmu pengetahuan, akan tetapi ilmu yang batil yang berselaputkan dugaan yang mensia-siakan masa dan mengelirukan fikiran dan diri penuntutnya.


Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA UKM Malaysia, menjelaskan lebih jauh, bahwa perubahan yang terpenting dalam pendidikan adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi. S3, S2 dan S1. “Ini bukan bersifat elitis yang negatif, tapi elitis yang stratejik. Pendidikan mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Semua anbiya’ diturunkan untuk mengajar kepada orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof Al-Attas ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya universitas. Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai kantor juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas.”


Sejarah Islam


Dalam zaman Umawiyah tampak sekali bahwa tujuan pendidikan selain untuk kepentingan agama juga untuk kepentingan sosial. Umpamanya Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya, ”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” Orang mengetahui bahwa pada waktu itu banyak ulama mengajar anak-anak khalifah dan orang-orang dari kelompok atas, syair, sejarah, juga sejarah orang-orang Arab, nenek moyang mereka, dan tindakan-tindakan mereka yang hebat-hebat.


Adapun dalam zaman Abasiyah, maka kedudukan ulama adalah tinggi sekali. Para khalifah menghormati para ulama dan ditempatkan pada tempat yang tinggi sesuai dengan ilmunya. Inilah sebabnya mengapa orang giat belajar supaya mereka memperoleh kedudukan yang baik. Perlu diketahui bahwa para ulama itu pada umumnya dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat biasa. Lalu mereka meningkat karena ilmunya kepada tingkatan yang tinggi.


Ahli syair Abul Itahiyah asalnya adalah tukang batu, Abu Tamam asalnya adalah penjual air di masjid Amr. Ayah Bashar adalah orang yang membikin alat dari tanah, al Jahiz penjual roti dan ikan, az Zajjaz tukang menulis di kaca, dan bapak al Ghazali penenun bulu. (KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, hal. 928).


Upload: Feryhady
Sumber: Nuim Hidayat (Hidayatullah.com)


Advertise on blogs

KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Redam Marahmu, Raih Surgamu


Huh, sebel!,” kalimat seperti itu, mungkin sering juga terjadi diantara kita semua. Sebel, dongkol dan marah. Entah kepada saudara, anak, teman, antara atasan dan bawahan kita di kantor atau antara pembantu dan majikan.

Bahkan terkadang pula, kemarahan yang kita keluarkan tidak dengan cara-cara semestinya dan jauh diluar kewajaran. Mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor, mencela, menghina, atau bahkan mengeluarkan aib seseorang yang sedang kita jadikan sasaran kemarahan kita.


Sebagian orang mengatakan marah adalah manusiawi. Karena marah adalah bagian dari kehidupan kita. Tapi siapa sangka, sifat marah justru menimbulkan penyakit. Bahkan yang lebih bahaya, marah justru mendapat ancaman neraka. Masyaallah!


Nah, baru-baru yang lalu, seorang peneliti dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) mengatakan, akibat marah seseorang bisa mengalami serangan jantung. Ini setelah irama organ tubuh vital ini berdetak terlampau cepat atau dengan ketinggian mematikan. Akibat kemarahan itu, jantung berhenti mensirkulasi darah yang bisa membuat si pemilik jantung meninggal secara tiba-tiba.


“Kondisi tersebut diperlihatkan dalam cara berbeda saat Anda berada dalam kondisi tertekan yang memicu kematian mendadak,” kata dr Rachel Lampert.


Lampert dan kolega-koleganya melakukan riset terhadap 62 pasien jantung dan menggunakan alat getar jantung yang dilekatkan ke tubuh mereka atau disebut ICD. ICD bisa mendeteksi irama jantung atau “arrhythimia”, yang mengantarkan kejutan listrik guna memulihkan detak jantung normal.


Tapi mengapa orang marah mudah terkena penyakit? Itu karena di dalam darah orang marah terkandung banyak hormon adrenalin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ini akan dilepaskan ke dalam darah ketika ada rangsangan emosi. Akibatnya ya itu tadi, denyut jantung akan bertambah cepat dan tekanan darah meninggi, keadaan ini yang mengakibatkan penyakit mudah datang.
Jika marah menimbulkan tekanan jantung sih mungkin bisa dimaklumi. Tapi jika marah bisa diancam dengan neraka, itu kelewat seram dan mengerikan. Tapi itu memang benar.


Dari Abu Hurairah, diceritakan, suatu hari ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata;


عــن أبـي هـريـرة رضي الله عــنـه ، أن رَجُــلاً قـــال للـنـبي صلى الله عـلـيـه وعلى آله وسـلـم:


أَوْصِــنِي .قال :( لاَ تَغْضَبْ ) فَرَدَّدَ مِرَارًا ، قال : ( لاَ تَغْضَبْ
رواه البخاري [ رقم : 6116 ].


(Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat kepada saya. ” Rosulullah bersabda, “Jangan marah!” Kemudian orang itu mengulang-ulang permintaannya. Rasulullah tetap menjawab, “Janganlah marah!).”[HR Bukhori]


Amarah adalah karunia Allah. Yang jadi masalah adalah, bagaimana marah yang bisa membawa barokah dan bagaimana yang mendatangkan malapetaka. Kata Rasulullah, amarah itu seperti jadam yang merusak manisnya madu. Sekuat apapun keimanan seseorang kalau dia pemarah bisa merusak keimanannya.


Sebagian kita memiliki beberapa karakter menyangkut kemarahan. Ada yang lambat marahnya, ada pula yang cepat marahnya alias tipe ‘sumbu pendek’. Ada pula yang mudah marah tapi ia mudah reda. Sebaliknya ada pula yang memiliki sifat tidak mudah menghapus amarah alias lama dan tak gampang reda jika marah. Bahkan sampai-sampai terbawa dendam. Yang terakhir ini adalah sifat paling buruk. Sifat yang paling baik adalah lambat marahnya dan cepat redanya.


Allah tak segan memberi ganjaran luar biasa di neraka bagi orang-orang yang suka marah. Sebaliknya, akan memberi hadiah setimpal berupa surga bila ia bisa menahan dan mengendalikan amarah nya. “Laa tahdzab wa lakal jannah,” kata Rasulullah. (Janganlah marah bagimu surga).[HR. Buhari].


Menahan diri

"Dari Mu'adz bin Anas Al Juhani, Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebutkan dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki" [HR. Tarmidzi , Abu Daud dan Ibnu Majah].
Tak ada manusia yang tak memiliki sifat amarah berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, masing-masing memiliki kemampuan menahan dan mengendalikannya. Rasulullah mengatakan, orang yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menjauhkannya dari murka-Nya.

Sang Hujjatul Islam, Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya pernah berkata, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”Nah, kepada mereka yang mampu menahan rasa marah, Rasulullah mengatakan, “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]
Salah satu cara menahan amarah adalah dengan diam. Rasulullah pernah berkata, “Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.” [HR. Ahmad].


Cara lain menahan amarah kata Rasulullah adalah membaca ta`awudz: “Inni La a’lamu kalimatan, lau qaa lahaa dzahaban anhu, maa yajidu, lau qaa la: A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim.” (Saya tahu suatu kalimat yang jika diucapkan seseorang, tentulah akan dapat memadamkan nafsu amarahnya. Yaitu, A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim). [al hadits]


Tips Menghindari Amarah


1. Nabi menganjurkan membca ta`awudz. “A’uddzu billahi minasy syaithonir rojim.” [Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk).
2. Diam atau tak bicara guna menjaga ucapan kita. “Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. [HR. Ahmad] )
3 . Berwudu. "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila di antara kalian marah, berwudulah" (H.R. Ahmad).


Upload: Feryhady
Sumber: Hidayatullah.com

Advertise on blogs

KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Nov 22, 2009

Resep Menepis Bosan Pada Pasangan Muslim


Bagi pasangan yang baru saja mengayuh biduk rumah tangga, mungkin perasaan bosan belum menjangkiti hati. Masih banyak pemakluman yang disematkan. Masih banyak toleransi yang direntangkan, manakala melihat pasangan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Kita pun masih tersenyum, manakala ia datang membawa sesuatu yang membuat kita lupa akan tingkahnya yang menjengkelkan.


Namun, bagaimana bila seiring dengan berjalannya waktu, pemakluman itu tak lagi ada? Kata-kata yang diucapkannya pun tak lagi menjadi penawar atas gundah yang berkecamuk di hati. Lisannya justru menjadi pemicu akan kemarahan yang sudah lama bertumpuk. Kehadirannya justru menjadi pemandangan yang menyebalkan. Akhirnya, pertemuan demi pertemuan hanyalah sebuah rutinitas karena memang tidak ada tempat pulang yang ‘harusnya’ kecuali rumah. Akhirnya, hanya ada satu kata yang mengemuka: bosan!


Sejatinya, bosan merupakan akibat yang muncul dari permasalahan yang selalu datang berulang tetapi tidak kunjung menemui penyelesaian yang tuntas. Ada baiknya, kita tidak perlu terlalu fokus pada kejenuhan yang dirasakan, tetapi justru berusaha menyelesaikan permasalahan yang menjadi biang keladi.


Putuskan dalam Hati


Berupaya menemukan jalan keluar dari permasalahan yang berlarut-larut memang bukan perkara mudah. Kadang, kita terlanjur menarik kesimpulan sendiri akan jawaban atau sikap yang akan dihadirkan pasangan. Tentunya, ini bukanlah penyikapan terhadap masalah yang baik. Membiarkan diri kita selalu mendengar ungkapan negatif versi perasaan kita sendiri, akan menyeret kita pada suasana hati yang buruk dan penuh prasangka.
Cobalah sesekali untuk memberi ruang bagi jawaban atau sikap pasangan. Karena, untuk merasa bahagia, bingung, kecewa, sedih, marah bahkan jenuh adalah masalah keputusan yang dibuat dalam hati kita sendiri. Bila kita memutuskan untuk melapangkan dada, mendengar jawaban atau menyaksikan sikap yang ditampakkan oleh pasangan, maka kita pun tidak akan merasa kecewa atau marah terhadap respon yang diberikan olehnya. Bahkan, bila kita telah memutuskan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi, bukan mustahil, Allah Subhanahu wa Ta’ ala (SWT) akan memudahkan jalan keluarnya.


Kita adalah apa yang kita pikirkan. Bila kita berpikir bahwa masalah itu sudah berurat-akar dan tak dapat diselesaikan, maka akan seperti itu pulalah keadaan hubungan kita dengan pasangan. Penuh rasa kecewa, bosan, dan terperangkap pada rutinitas kewajiban. Itulah sebabnya, hindari membiarkan perasaan kita menjadi sesuatu yang sulit dipahami oleh Anda dan pasangan. Buatlah keputusan bahwa masalah kita akan berakhir dengan baik dan mendatangkan kebahagiaan.


Bosan pun bisa dihindari dengan tindakan yang kita ambil. Aktivitas yang monoton dengan lawan interaksi yang tak berubah, sangat potensial untuk memicu kejenuhan. Karena itu, interaksi yang saling mengisi, mengerti, dan dikemas dalam pola yang baru, diharapkan mampu menjadi jurus yang ampuh untuk mengimbangi kecenderungan merasa jenuh. Artinya, dalam keseharian, perlu adanya inisiatif dari masing-masing pihak untuk mengatasi pemicu kebosanan dengan rasa saling mengisi.


Mencoba Mengerti


Inisitiaf ini tentu tak akan muncul, bila tidak didasari oleh terbangunnya rasa pengertian di antara pasangan. Masalah pun akan terlihat lebih jelas, bila kedua belah pihak mau sejenak berhenti menomorsatukan perasaan masing-masing dan mengerti apa yang dirasakan oleh pasangannya.


Terkadang, kita adalah orang yang sangat membutuhkan pengertian. Hidup bersama orang yang tidak mau mengerti kita, tentu hidup akan terasa tidak masuk akal. Apapun yang kita lakukan adalah kesalahan. Dengan adanya pasangan yang senantiasa berusaha mengerti dan mengisi, kita akan merasa ditemani. Selain itu, merasa bahwa apa yang kita lakukan juga dapat membahagiakan orang lain.


Begitu pula sebaliknya, apa yang dirasakan suami atau isteri kita. Bila kita berusaha memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk memberikan yang terbaik, tentu ia akan bersemangat dan berusaha melakukan hal yang baik itu menjadi lebih baik. Inilah yang akan menghindarkan kehidupan berumahtangga dari kejenuhan.


Cobalah kita cermati sejenak, tindakan yang diambil oleh Rasulullah SAW saat menemani Aisyah RA. Saat itu Aisyah RA melakukan hal yang bagi sebagian orang mungkin tidak masuk akal dan kekanakkan.


Aisyah RA berkata, "Demi Allah, aku pernah melihat Rasulullah SAW berada di pintu kamarku, sedangkan saat itu di dalam masjid ada beberapa orang Habsyi (Abyssinia) yang sedang bermain tombak. Rasulullah SAW pun kemudian menutupiku dengan selendangnya agar aku tidak terlihat oleh orang banyak, tapi aku dapat melihat permainan mereka. Aku sandarkan wajahku di antara bahu dan telinga beliau dengan menempel di pipi beliau, kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah engkau sudah puas?” Aku menjawab, “Belum.” Dan aku tetap melihat permainan itu dari tempatku berdiri sampai aku merasa puas."


Dalam riwayat lain disebutkan, "Beliau tetap berdiri karena menemaniku (Aisyah) melihat permainan itu hingga aku puas, lalu aku pergi meninggalkan permainan itu, maka perkirakanlah dengan perkiraan wanita remaja yang masih senang melihat permainan." (Riwayat Bukhari dan Muslim).


Agar istrinya mendapatkan hiburan dan merasa senang, Rasulullah SAW tak merasa rugi meluangkan waktu sejenak untuk menemani Aisyah RA melakukan sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang “sudah lewat masanya”. Nah, agar Anda dan pasangan tak dihantui rasa bosan, bagaimana jika bersama-sama melakukan hal yang tidak biasa?


Rasulullah SAW dalam berbagai Hadits yang masyhur menggambarkan betapa beliau sangat menjaga mood isteri-isterinya. Beliau senantiasa melakukan hal-hal kecil yang membuat rumahtangga beliau selalu terlihat cerah setiap harinya. Siapa pun tak akan mampu menyembunyikan rasa ketersanjungan manakala diperlakukan laksana Rasulullah SAW memperlakukan Shafiyah binti Huyay. Dengan lembut, Rasulullah SAW menyediakan pahanya untuk dijadikan injakan Shafiyah, saat isteri beliau tersebut hendak menaiki kuda tunggangannya. Jadi, meskipun Anda tahu bahwa suami Anda bisa merapikan jenggotnya sendiri atau isteri Anda bisa membuka pintu mobil sendiri, apa salahnya jika suatu saat Anda yang melakukan hal tersebut untuknya?


Nah, bila rasa bosan sudah mulai menghinggapi denyut keseharian Anda dan pasangan, marilah bersama kembali pada sunnah Rasul-Nya. Yaitu sunnah untuk mendengarkan apapun yang disampaikannya, berprasangka baik, berinsiatif untuk melakukan hal-hal yang membuatnya gembira, dan menjadikannya satu-satunya yang terbaik di hati Anda.


Dan jangan lupa, perhatian dan tindakan Anda yang membuatnya merasa paling istimewa, tentu akan membuatnya menjadikan Anda pun orang yang diistimewakannya, setiap saat.

 Upload By Sekar Arum
Sumber:Hidayatullah.com

Advertise on blogs

KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Nov 16, 2009

Tips Bergaul Muslim Saat Natal Tiba

Setiap menjelang Natal, sebagian Muslim ada yang merasa dipojokkan tuduhan "tidak toleran" jika tidak mengucapkan "Selamat Natal" kepada teman atau kenalan yang beragama Kristen.

Padahal, cara-cara seorang Muslim bergaul dengan para pemeluk Kristen atau agama lain dibimbing oleh syari'ah untuk diamalkan sepanjang waktu, bukan hanya untuk hari yang satu itu.

Pada dasarnya, Allah menyukai jika hambanya berbuat baik kepada sesama manusia, siapapun dan apapun agamanya selama tidak menampakkan permusuhan terhadap Islam.

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (terjemahan surat Al-Mumtahanah [60]: 8)

Berikut ini beberapa tips praktis dari Syariat Islam mengenai bagaimana cara bergaul dengan orang yang memeluk agama selain Islam.

1. Memberikan makanan

Rasulullah ShallalLahu 'alaihi wasallam pernah memberi makan seorang lelaki Yahudi yang sudah tua, buta, dan sakit-sakitan setiap hari sampai beliau ShallalLahu 'alaihi wasallam wafat. Bahkan beliau menyuapi Yahudi tersebut dengan penuh kelembutan, padahal setiap kali beliau datang untuk menyuapinya, lelaki itu mencaci-maki beliau selama beliau menyuapinya. Lelaki itu tidak tahu kalau yang menyuapinya adalah orang yang ia caci-maki. Ketika Rasulullah ShallalLahu 'alaihi wasallam wafat dan Abu Bakar menggantikan beliau menyuapi lelaki tua tersebut, Abu Bakar memberi tahu bahwa orang yang ia caci-maki itu adalah orang yang selama ini menyuapinya dan sekarang sudah meninggal dunia. Yahudi itu menangis kemudian masuk Islam.

2. Mengucapkan ucapan kegembiraan atau memberi hadiah 

Hal tersebut biasanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti kelahiran bayi, kenaikan pangkat, mendapat pekerjaan yang lebih baik, mendapat penghargaan atas prestasi, dan lain-lain yang tidak berhubungan langsung dengan masalah ibadah (ritual agama). Islam tidak melarang hal-hal tersebut, bahkan menganjurkan.

3. Menolong mereka ketika kesusahan

Ini pula yang pernah dilakukan Rasulullah ShallalLahu 'alaihi wasallam kepada lelaki Yahudi tua yang buta dan sakit-sakitan tersebut. Dalam hal ini termasuk yang sakit dan membantu mereka, membantu mereka yang miskin, terutama jika mereka adalah tetangga dekat, memberi air pada musim kekeringan jika mereka membutuhkan, memberikan beasiswa bagi anak-anak mereka yang tidak mampu, dan lain-lain tanpa menyuruh apalagi memaksa mereka memeluk Islam. Karena hidayah itu ada di tangan Allah. 

4. Menerima dan memakan makanan pemberian mereka 

Selama tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan Babi, daging sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan khamr berikut turunannya tentu haram kita terima. 

Jelaskan dengan cara yang baik kepada mereka kenapa kita menolaknya. Mudah-mudahan penjelasan kita bisa jadi jalan hidayah dari Allah. Unsur-unsur haram ini tetaplah haram, dari siapa pun kita mendapatkannya, apapun agamanya. Jadi, selama dapat dipastikan bahwa makanan pemberian mereka itu tidak ada unsur-unsur tersebut, halal bagi Muslim untuk memakannya. " Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka…" (Al-Maidah [5]: 5) 

5. Berlaku Adil 

Suatu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib radhialLahu 'anhu mengadukan seorang Yahudi yang beliau duga telah mencuri baju besinya kepada hakim setempat. Dalam pengadilan di mana Ali dan Yahudi tersebut hadir, pengaduan Ali radhialLahu 'anhu tersebut tidak diterima, sebab Ali tidak menghadirkan saksi pencurian tersebut. Mendengar putusan hakim tersebut, Yahudi tersebut terkejut, karena sebelumnya ia sangat yakin bahwa pengadilan akan berpihak pada Ali radhialLahu 'anhu, yang di samping ia seorang muslim, juga khalifah. Di muka pengadilan tersebut, ia mengakui bahwa ialah yang mencuri baju besi Ali radhialLahu 'anhu tersebut. Pengakuan itu diikuti dengan pernyataan keislamannya. Akhirnya Ali bin Abi Thalib memberikan baju besi tersebut sebagai ungkapan kegembiraannya. 

Masalah Aqidah: Tidak Ada Kompromi 

Ada pun hal-hal yang bersentuhan dengan masalah keyakinan, maka dalam Islam ada rambu-rambunya pula. Setiap perkataan dan sikap yang mengandung makna persetujuan dengan keyakinan mereka yang berseberangan dengan aqidah Islam, maka hal tersebut dilarang dalam Islam. 

a. Mengucapkan Selamat Natal dan Menghadiri Perayaannya 

Perayaan Natal bagi pemeluk Kristen pada zaman ini bermakna mengingat dan merayakan hari yang mereka yakini sebagai hari kelahiran Yesus yang mereka anggap Tuhan. Menghadiri atau memberi selamat Natal kepada pemeluk Kristiani tentu saja merupakan ungkapan persetujuan bahkan bahagia atas makna tersebut. Tidak bisa tidak. Padahal Islam mengatakan bahwa Isa (Yesus) adalah nabi dan rasul utusan Allah Subhana wa Ta'ala. Dalih yang mengatakan bahwa boleh mengucapkan selamat Natal dengan niat hanya menghormati mereka sebagai manusia, tidak dapat diterima baik secara logika ataupun secara bahasa. Karena logika dan bahasa menunjukkan ucapan selamat merupakan keterlibatan jiwa (perasaan) orang yang mengucapkan selamat bahwa ia ikut merasakan kebahagiaan, sesuatu yang bahkan melebihi persetujuan atas apa yang diselamati. Bukan bahagia tanpa sebab. Lalu, pantaskah seorang yang telah bersaksi bahwa tiada sembahan selain Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menyampaikan rasa bahagia ketika Allah disekutukan dengan yang lain? Karena bagi mereka Isa adalah "Tuhan", sekaligus "anak Tuhan". Mereka menyebut dengan jelas: "Tuhan Yesus!" Ibnu Umar radhiaLlahuanhu pernah membuat pernyataan yang menegaskan betapa besar dan beratnya kesyirikan kaum Kristen ini karena mengatakan "tuhan itu tiga". 

b. Menghadiri Peribadatan Mereka 

Menghadiri peribadatan adalah pengakuan yang nyata atas dasar keyakinan seluruh peserta berikut pemuka agama yang memimpin peribadatan tersebut. Dua hal di atas termasuk ke dalam hal-hal yang Allah peringatkan dalam Surat Al Kafirun.

Sumber: Hidayatullah.com
Upload By: Feryhady



Advertise on blogs

KLIK UNTUK KELANJUTANNYA......

Update Myworld

Plengkung

Plengkung
Plengkung

Chat Via Yahoo

Agro Wisata

Agro Wisata
Kopi

Jaranan

Jaranan
Tari Jaranan

Ngikut Yuuuk

Tukeran Link


feryhady.blogspot

Pengunjung

free counters

Geo Counter

IP Kamu

Tuker Duit

Petik Laut 1 Syuro

Petik Laut 1 Syuro
Petik Laut 1 Syuro

Wisata Banyuwangi

Wisata Banyuwangi
Terowongan Mrawan-Kalibaru

Dermaga Ketapang

Dermaga Ketapang
Dermaga Ketapang

Wisata kalibaru

Wisata kalibaru
Kalibaru Cottages

Wisata Banyuwangi

Wisata Banyuwangi
Warung Bebas Kalibaru

Watu Dodol

Watu Dodol
Watu Dodol

Gandrung Banyuwangi

Gandrung Banyuwangi
Tari Gandrung

Sukamade

Sukamade
P.Penyu Sukamade

Kamus